“Sukses
itu adalah 1% bakat dan 99% kerja keras.”
-
Thomas Alva Edison -
Apa orang berbakat saja yang bisa
sukses? Apa berbakat berarti kreatif?
Dua pertanyaan ini sudah lama bercokol
dalam kepala saya. Bahkan saya sempat mencari dan membaca banyak artikel untuk
mengetahui hubungan antara bakat dengan kreativitas yang dimiliki seseorang. Saya
juga mencari tahu apakah bakat bisa mendukung seseorang mencapai kesuksesan.
Banyak orang di sekitar saya suka
mengatakan, “Ah, pantas saja dia jadi pengusaha. Dia berbakat sih.” Ada lagi
yang mengatakan, “Wah jadi penulis, ya? Pantas. Kamu memang berbakat menulis.”
Benarkah?
Fakta yang saya temukan setelah membaca
sekian buku dan sekian artikel adalah tidak ada satu pun orang yang sukses
hanya mengandalkan bakatnya. Tidak ada satu manusia pun yang lahir ke dunia
sudah memiliki bakat sebagai penemu telepon, berbakat menulis, berbakat di
bidang mesin, berbakat melukis, dan berbakat hal lain. Bakat sama sekali tidak memiliki pengaruh besar bagi kesuksesan
seseorang. Bakat juga tidak menentukan seberapa kreatif orang itu.
Seperti pendapat yang dikatakan oleh
Thomas Alva Edison, “Sukses adalah 1% bakat dan 99% kerja keras”, itulah yang
dialami semua orang sukses di dunia ini. Thomas Alva Edison harus bekerja keras
terlebih dahulu hingga akhirnya bisa menemukan bola lampu pijar. Bayangkan, ia baru
bisa menemukan satu bola lampu yang bisa menyala setelah menemukan 9.955 kali
bola lampu yang gagal menyala.
Ingin contoh lain?
John Grisham harus mengalami penolakan
sebanyak 45 kali sebelum novel A Time to
Kill berhasil diterbitkan dan menjadi novel best seller. Begitu juga dengan naskah novel Kathryn Stockett yang
berjudul The Help, pernah mengalami
60 kali penolakan hingga akhirnya terbit pada 2009 dan terjual sebanyak 5 juta
kopi.
Bayangkan betapa beratnya perjuangan
Kathryn Stockett menulis selama lima tahun. Ia bekerja keras selama itu demi
menghasilkan satu buku. Dan begitu buku itu selesai, ia masih harus mengalami
60 kali penolakan dan menunggu selama tiga setengah tahun lagi sebelum
benar-benar bisa meraih kesuksesannya sebagai penulis buku.
Tidak hanya Kathryn Stockett yang
mengalami perjuangan berat dan lama dalam menciptakan karya. Kalian pasti pernah membaca
novel best seller Ayat-ayat Cinta, kan? Yah, minimal menonton filmnya. Novel
itu juga melalui perjuangan yang sangat panjang sampai akhirnya bisa meraih
kesuksesan besar.
“Novel—mega best seller Ayat-ayat
Cinta—saya kerjakan dalam waktu kurang lebih satu bulan setelah saya mengalami
kecelakaan lalu lintas dan harus beristirahat di rumah sakit. Saya kemudian
melanjutkannya di rumah. Proses pengumpulan bahan dan pengolahan ide hingga
menjadi sebuah cerita yang sukses saya lakukan selama tujuh tahun saya kuliah
di Kairo, Mesir,” kata penulis Habiburrahman El- Shirazy. (Tertuang dalam buku
Inspiring Story: 30 Kisah Para Tokoh Beken yang Menggugah karya Ahmadun Yosi
Herfanda dan Irwan Kelana)
Pernahkah kamu berpikir seperti ini?
Aku ingin jadi arsitek, tapi aku tidak
bisa menggambar.
Aku ingin jadi mekanik andal, tapi aku
tidak tahu sama sekali tentang mesin.
Aku ingin sukses sebagai pengusaha, tapi
aku tidak punya ilmu berjualan dan memengaruhi orang.
Aku ingin menjadi ilustrator yang
kreatif, tapi gambarku tidak bagus.
Aku ingin jadi penulis, tapi aku tidak
punya banyak waktu untuk menulis.
Oh, ayolah. Untuk apa kamu berpikir ingin
jadi ini dan ingin jadi itu, tapi kamu tidak berusaha melakukan sesuatu untuk
mewujudkannya. Coba renungkan lagi, untuk semua hal yang ingin kamu capai, apa
yang sudah kamu lakukan?
Kalau kamu ingin menulis, tetapi merasa
tidak punya waktu untuk menulis, sebaiknya kamu urungkan saja keinginan itu.
Ingin saja tidak akan cukup tanpa disertai usaha dan kerja keras.
Kalau kamu ingin menjadi arsitek atau
ilustrator, tetapi gambarmu jelek. Berlatihlah terus tanpa kenal lelah. Percayalah,
gambarmu akan jadi lebih bagus dari hari ke hari kalau kamu rajin berlatih.
Kamu ingin menjadi mekanik andal dan
pengusaha sukses, tetapi kamu tidak memiliki ilmunya. Dangkal sekali pikiranmu
kalau karena ini kamu berhenti bermimpi. Padahal kamu bisa belajar dan mencari
ilmu di mana pun. Ilmu mekanik, juga ilmu berdagang, termasuk ilmu memengaruhi
orang, bisa kamu pelajari dari orang-orang yang sudah sukses, membaca banyak
buku dan artikel, lalu terjun langsung ke lapangan dan praktikkan ilmu itu.
ILMU TANPA PRAKTIK AKAN MENJADI
SIA-SIA
IMPIAN (KEINGINAN) TANPA TINDAKAN
NYATA HANYA MENJADI MIMPI DI SIANG BOLONG YANG TAK MENGHASILKAN APA-APA
 |
Tulisan ini diambil dari buku Yakin Selamanya Mau Di Pojokan?!
Karya Monica Anggen |
Label: Buku Monica Anggen